Saturday, 13 August 2016

Untuk Para Enterpreneur, Ukur Kualitas Produkmu Dari Repeat Order!


Tak dapat dipungkiri, salah satu hal yang paling dikejar oleh seorang Enterpreneur adalah datangnya repeat order dari para pelanggannya. Keuntungan yang kecil namun terjadi terus menerus tentu lebih menyenangkan daripada keuntungan besar namun hanya terjadi sesekali. 

Setiap orang cenderung akan semakin semangat dalam berjualan ketika produknya laku berkali-kali. Bukan laku sekali, lalu pelanggan tidak datang lagi. Entah merasa kecewa dengan kualitas produknya, ataupun mendapatkan produk yang sama di tempat lain dengan harga yang lebih murah.


Untuk kemungkinan yang kedua tentu lebih mudah kita analisis. Karena ketika akan menentukan harga suatu produk, tentu kita sudah survey terlebih dulu harga produk yang sama di tempat lain. Celakanya adalah ketika produk kita ternyata sudah lebih murah dibandingkan yang lain. Maka bisa dipastikan pelanggan yang tidak kembali datang untuk melakukan pemesanan adalah tanda-tanda kurang baiknya kualitas produk kita.

Namun, jika produk kita lebih tinggi harganya dibanding produk lain dan pelanggan tidak kembali datang, eit jangan buru-buru menurunkan harga dulu. Siapa tahu pelanggan tidak datang kembali ke tempat kita dikarenakan kualitas produk dan pelayanan kita yang kurang baik.

"Mengukur efektifnya pemasaran dapat melalui seberapa banyak pelanggan baru yang datang. Sedangkan kualitas produk dan pelayanan, diukur dari seberapa banyak pelanggan yang datang untuk kembali melakukan pemesanan (repeat order)." (Bahtera M. Adi, owner Clothink Konveksi)

Pelanggan yang sudah pernah membeli di tempat kita dan merasa puas adalah ASET. Selain karena kita tidak perlu mengeluarkan biaya promosi lagi untuk mereka, selain itu mereka adalah magnet untuk usaha kita. Mereka akan mengajak orang lain untuk berbelanja di tempat kita dan tidak segan untuk memberi masukan bagi kemajuan usaha kita.

Inilah pentingnya evaluasi dalam sebuah usaha. Jangan sedikit-sedikit menurunkan harga ketika produk kita sepi pembeli. Karena selain profit menjadi turun, otomatis mengurangi biaya promosi kita juga. Ujung-ujungnya bukan tambah laris, bisa jadi usaha kita semakin sepi.

Ilustasi: lavi

No comments:

Post a Comment